Kamis, 23 November 2017

Widi Hastuti, Juara 2 Guru Madrasah Aliyah Berprestasi Tingkat Nasional

Widi Hastuti (dua dari kanan) bersama guru MA berprestasi Kememenag RI 2017.
Tangerang—Nama Widi Hastuti kembali muncul sebagai salah satu guru berprestasi Kemenag RI. Pada kompetisi yang digelar di ICE BSD City Tangerang itu nama Pengurus IGI Bantul tersebut dinyatakan sebagai Juara 2 guru dan tenaga kependidikan berprestasi kategori guru madrasah aliyah.

Sebelum maju di tingkat nasional, Widi terlebih dahulu harus bersaing di tingkat Provinsi DI Yogyakarta. Setelah meraih juara pertama di DIY, nama Widi Hastuti diikutkan dalam seleksi nomine guru berprestasi tingkat nasional. Setelah menjadi satu dari lima nomine, Widi kemudian mengikuti kompetisi tingkat nasional yang pengumumannya digelar bersamaan International Islamic Education Expo (IIEE) 2017, Kamis (23/1) lalu.

Menurut Widi Hastuti, penilaian yang dilakukan panitia selama di Tangerang meliputi nilai modal (40%), nilai presentasi dan wawancara (50%), keterampilan bahasa Arab/Inggris (5%), serta karya kreatif-inovatif (5%). Akumulasi dari empat komponen itulah yang menentukan urutan juara para nomine.

Prestasi ini bukanlah yang pertama diraih oleh guru MAN 3 Bantul ini. Sebelumnya, di tahun 2012, kandidat doktor UIN Sunan Kalijaga tersebut menjadi juara 3 Anugerah Konstitusi Guru PKn Berprestasi Tingkat Nasional yang digelar Mahkamah Konstitusi. (sab)

Selasa, 06 September 2016

IGI Bantul Tingkatkan Kompetensi Guru dalam Pemanfaatan PowerPoint

Peserta mengikuti pemaparan narasumber dalam workshop
media pembelajaran interaktif IGI-Amikom (3/9).
SLEMAN–Dalam merancang sebuah media pembelajaran, seorang memerlukan penata kelola data, programmer, dan desainer. Tim ini bertugas menjalankan konsep yang telah ditentukan sebelumnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Dhani Ariatmanto pada acara Workshop Pembuatan Media pembelajaran Interaktif yang digelar Ikatan Guru Indonesia (IGI) Bantul-STIMIK Amikom, Sabtu (3/9/2016).

Pada kesempatan itu, dosen STIMIK Amikom itu menyampaikan bahwa dalam pembuatan media pembelajaran, para guru juga harus mempertimbangkan pemanfaatan image, sound, text, animasi, dan video.

Namun, Dhani mengingatkan, pemanfaatan media tersebut harus bijak dan tepat.

“Jangan sampai semua unsur itu dimasukkan dalam satu halaman tanpa fungsi yang jelas,” jelasnya.

Workshop yang digelar di Laboratorium 8 Gedung 2 STIMIK Amikom itu diikuti oleh 70 peserta yang berasal dari DI Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Ketua Panitia, Slamet Pujiono, menyampaikan bahwa workshop dijadwalkan dilangsungkan pukul 08.00-15.00 WIB.

“Setelah mengikuti sesi hari ini, peserta diwajibkan mengimplementasikan materi yang didapat untuk membuat sebuah media pembelajaran. Peserta ditarget menyelesaikan media dalam sepekan. Setelah itu, mereka akan mendapatkan sertifikat sebagai peserta.”

Lebih lanjut, Slamet Pujiono menyampaikan bahwa karena tujuan workshop ini untuk meningkatkan kompetensi guru, panitia hanya akan memberikan sertifikat bagi yang hadir dan menyelesaikan tugas.

“Jika ada peserta tidak bisa mengikuti dan atau menyelesaikan tugas, berarti yang bersangkutan kami pandang tidak berhasil menyelesaikan kegiatan. Itu artinya, sertifikat tidak dapat kami berikan,” uangkap Slamet Pujiono.

Pada sambutannya, Ketua IGI Bantul, Lucia Camara Dini, mengutarakan bahwa pihaknya sengaja memilih software Powerpoint.

Hal ini dilatarbelakangi oleh banyaknya guru yang belum mampu memanfaatkan Powerpoint secara maksimal. Selain itu, menurut Camara Dini, pihaknya ingin software yang dilatihkan adalah software yang familar bagi guru peserta.

“Kami ingin software yang dilatihan di sini benar-benar software yang dimanfaatkan oleh guru. Kami pandang, Powerpointlah yang paling banyak digunakan,” ujar Camara Dini.

Kegiatan yang juga didukung oleh Microsoft Indonesia itu menghadirkan dosen STIMIK Amikom Dhani Ariatmanto, Bernadhed, Mulia Sulistiyono, Agung Nugroho, Andika Agus S., dan Tri Susanto sebagai pemateri. (sab)

Rabu, 03 Agustus 2016

Kadis Dikmenof Tunggu Geliat Ikatan Guru Indonesia di Bantul

Peserta audiensi berfoto seusai acara.
BANTUL--Data hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) 2015 menunjukkan bahwa nilai UKG untuk guru usia 25 tahun ke bawah adalah 56,56 untuk laki-laki dan 58,16 untuk perempuan. Selanjutnya meningkat sampai usia 41-45 tahun, yakni 60,36 untuk laki-laki dan 58,72 untuk perempuan.

Hal tersebut disampaikan oleh Sajan Badio ketika beraudiensi dengan Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Nonformal (Dinas Dikmenof) Kabupaten Bantul di Ruang Rapat Dinas Dikmenof (2/8) kemarin.

Lebih lanjut Wakil Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Daerah Bantul itu mengemukakan, terjadi penurunan untuk guru berusia di atas 41-45 tahun. Nilai terendah menurut Sabjan diperoleh guru dengan usia 50-60 tahun.

"Data tersebut tidak boleh diterima begitu saja. Harus ada usaha untuk mengatasinya. Inilah di antara alasan keberadaan IGI, yakni turut berkontribusi dalam peningkatan kompetensi guru," ungkap Sabjan yang berbicara mewakili Ketua IGI Bantul yang berhalangan hadir karena sedang menjalani diklat calon kepala sekolah.

Diungkapkan lebih lanjut, terkait program peningkatan kompetensi guru itu, IGI telah menginisiasi program Satu Guru Satu Laptop (Sagusala). Oleh karena saat ini rata-rata guru sudah memiliki laptop, IGI kemudian mengembangkannya menjadi program Satu Guru Satu Tablet (Sagusatab). Selain itu, ada juga program Satu Guru Satu Inovasi (Sagusanov), Bersama IGI Bisa Android (Sagisandro), Gerakan Indonesia Membaca, Gerakan Indonesia Menulis, Gerakan Guru Melek Internet, dan lain-lain.

Sabjan Badio memaparkan keberadaan IGI Bantul
di hadapan Kepala Dinas Dikmenof Bantul, Masharun Ghazalie.
"Bahkan, di IGI Bantul, kita menggagas program satu guru satu naskah. Pada program ini, diharapkan guru-guru IGI memiliki tulisan, apapun bentuknya," jelas Sabjan. "Sementara itu, untuk program terdekat, IGI Bantul akan menyelenggarakan pelatihan pembuatan media pembelajaran," lanjutnya.

Turut serta dalam audiensi itu, Slamet Pujiono (Sekretaris), Maria Estri Putranti (Bendahara 1), Erninah Tjahajati (Bendahara 2), dan beberapa anggota IGI Bantul. Selain tim IGI Bantul, hadir pula perwakilan IGI Wilayah (Arifah Suryaningsih) dan IGI pusat (Harsoyo Supriadi dan Elyas).

Harsoyo mengungkapkan bahwa IGI lahir tidak dimaksudkan untuk bersaing dengan organisasi lain, melainkan untuk bersama-sama membangun dunia pendidikan.

"IGI tidak berdemo kepada pemerintah, tetapi kami mengambil wilayah peningkatan kompetensi guru yang menurut kami sangat penting bagi karier seorang guru," ungkap Harsoyo yang saat ini menjabat Wakil Sekjen IGI Pusat Bidang Regulasi.

Kepala Dikmenof Bantul, Masharun Ghazalie, menyambut baik kehadiran Ikatan Guru Indonesia di Bantul. Menurutnya, selama ini geliat organisai guru di tingkat sekolah menengah belum begitu terasa.

"Sumber daya manusia memiliki peranan penting dalam kehidupan. Seperti kita ketahui, posisi Indonesia saat ini tertinggal dari negara-negara lain di dunia. Keberadaan IGI membawa harapan baru bagi dunia pendidikan, di antaranya dalam mengatasi kesenjangan penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan," ungkap Masharun yang saat itu didampingi oleh Kabid Dikmenjur tersebut.

IGI diharapkan oleh Masharun untuk selalu punya target dan memiliki citra yang baik. Lebih lanjut Masharun berpesan bahwa dalam menjalankan perannya IGI Bantul dapat berkolaborasi dengan jejaring pendidikan dan birokrasi yang ada di Kabupaten Bantul.

Hal senada disampaikan oleh Kabid Dikmenjur Dikmenof Bantul, Sukarja. Menurutnya, ada cukup banyak organisasi di lingkungan Dinas Dikmenof Bantul, seperti MGMP, MKKS, K3SK, IGI diharapkan berkolaborasi dengan organisasi-organisasi tersebut.

Audiensi yang dilangsungkan pukul 13.00-15.00 WIB itu diakhiri dengan penyerahan dokumen organisasi IGI oleh Sekretaris IGI Bantul, Slamet Pujiono, kepada Kabid Dikmenjur Dinas Dikmenof Bantul. Selain itu, juga diserakan pula buku-buku karya guru IGI yang diterbitkan oleh Penerbit IGI. (sab)

Senin, 13 Juni 2016

Tim IGI Bantul Jajaki Kerja Sama dengan Direktorat Pengabdian Masyarakat Amikom

Tim IGI Bantul ketika bertandang ke Direktorat Pengabdian Masyarakat
STIMIK Amikom Yogyakarta (13/6/2016).